Cara Membuat Pakan Ayam dan Peluang Bisnisnya


Sudah saatnya peternak layer membuat pabrik pakan atau pakan sendiri dengan memanfaatkan teknologi yang ada agar efisien, potensi genetik ayam bisa tercapai, dan bisa mengurangi biaya produksi

Selama tiga bulan terakhir ini, Indonesia telah diguncang oleh pandemi Corona Virus Disease 2019 atau disingkat Covid-19. Pandemi ini seolah memaksa semua orang untuk diam di rumah guna memutus rantai penyebaran virusnya. Tak pelak hal ini pun berdampak terhadap roda perputaran uang pelaku usaha, baik skala kecil maupun besar, termasuk di dalamnya adalah peternak Iayer (ayam petelur) yang menerapkan metode pembuatan pakan secara self mixing (mencampur sendiri).

Salah satu peternak layer di Blitar, Jawa Timur, Sukarman mengaku, beberapa bahan pakan harganya meningkat di tengah wabah Covid-19. “Setelah Covid-19 menyerang Indonesia, saya kira tidak ada perubahan terhadap produksi telur, tetapi harga bahan pakan menjadi naik sehingga mempengaruhi harga pokok produksi (HPP). Sayangnya, peningkatan HPP tersebut tidak diimbangi oleh harga telur,” sesal pria yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar ini.

Sedangkan peternak layer di Kendal, Jawa Tengah, Suwardi mengutarakan alasannya dalam memilih untuk mengolah pakan sendiri, yaitu karena melimpahnya sumber daya pakan yang ada di desa. Beberapa bahan pakan yang dibelinya dari petani lokal diantaranya adalah jagung dan bekatul. Menurutnya, dengan membeli bahan pakan dari petani lokal, maka akan lebih menghargai potensi yang ada di desa.

“Saya menggunakan pakan self mixing sejak awal beternak yaitu pada 2011 silam. Alasan menggunakan pakan self mixing yaitu bahan baku di sekitar banyak tersedia, dengan memanfaatkan hasil panen dari petani jagung dan padi. Sedangkan untuk konsentratnya beli di pabrik,” kisahnya pada TROBOS Livestock. 

Keuntungan Self Mixing

Self mixing merupakan metode pencampuran pakan yang dilakukan sendiri. Hal tersebut diungkapkan oleh Sukarman, karena peternak layer di Blitar rata-rata mencampur pakan sendiri untuk ayamnya. Adapun bahan pakan yang digunakan antara lain jagung, bekatul dan konsentrat.

“Sebanyak 70 % peternak layer di Blitar merupakan peternak rakyat, sehingga memiliki keterbatasan dana. Akhirnya, teman-teman peternak berkeinginan untuk mencampur pakan sendiri dengan bahan baku konsentrat, jagung, dan bekatul. Jagung banyak tersedia di sekitar dan biayanya relatif murah,” katanya.

Namun, lanjut Sukarman, untuk penggunaan konsentrat bagi peternak dengan populasi kurang dari 20.000 ekor umumnya membeli dari pabrik. Sementara itu, bagi peternak besar dengan populasi ayam di atas 20.000 ekor, diketahui menggunakan bungkil kedelai, MBM (meat bone meal), tepung ikan, jagung dan bekatul, sehingga jarang ditemukan peternak yang murni menggunakan pakan jadi dari pabrik. Selain pakan self mixing bisa menekan biaya produksi yaitu Rp 300 – 500 per kg dari pakan jadi, peternak juga bisa menentukan sendiri jumlah protein yang dibutuhkan ayam.

Kadang kala, ketika harga jagung mahal ada peternak yang beralih menggunakan pakan jadi dari pabrik. “Seperti sekitar awal 2019, jagung cukup sulit didapatkan dan berimbas pada harganya yang mahal. Tetapi dengan beralih menggunakan pakan jadi, hasil telurnya terkadang kurang baik, sehingga peternak kembali lagi menggunakan pakan self mixing,” terangnya.

Sama halnya dengan pengalaman Sukarman, Suwardi mengungkapkan, bahan pakan self mixing terdiri dari konsentrat, bekatul, jagung dan mineral sebagai tambahan. Pria yang juga menjabat sebagai kepala desa ini, kerap membeli jagung hasil tani milik tetangganya. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan potensi bahan pakan lokal.

“Kita mengambil bekatul dari petani yang ada di sekitar kita. Bekatul tersebut merupakan produk pertanian dari desa kita sendiri. Selain itu, harganya lebih miring sedikit dibanding pakan jadi dari pabrik yaitu selisih Rp 150 – 200 per kg di saat harga jagung stabil,” ujarnya.

Kelebihan dari menggunakan pakan self mixing pun turut dirasakan oleh peternak layer di wilayah Pringsewu, Lampung, Dedy Wijaya, sebab wilayah tersebut merupakan sentra jagung. “Bahan baku pakan melimpah, sekaligus dapat menampung hasil panen jagung warga di sekitar kandang. Pertimbangan lain menggunakan pakan self mixing, tentu untuk menekan biaya pakan,” sahutnya.

Meski demikian, Dedy membeberkan terkadang harga pakan pabrik lebih murah daripada pakan self mixing. Terutama ketika harga jagung lokal melonjak naik. Terlebih, dengan pakan self mixing peternak bisa berkreasi dan berinovasi dalam komposisi formulanya. Dedy pun mengakui, dari sisi kualitas, pakan pabrik lebih baik karena bahan bakunya lebih standar, mesinnya lebih besar dan canggih.

“Pabrik bisa meningkatkan kadar energi pakan melalui penambahan CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit dengan cara disemprotkan ke dalam pakan. Sementara pakan self mixing tidak bisa mengaplikasikan CPO karena tidak memiliki peralatan untuk itu. Namun ada kalanya mutu pakan pabrik juga turun, terutama ketika mereka menggunakan jagung impor yang dari sisi kadar air dan toksinnya lebih rendah, tapi dari sisi nutrisinya lebih rendah dari jagung lokal,” jabar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua III Pinsar Petelur Nasional (PPN) Wilayah Lampung ini.

Dengan menggunakan pakan self mixing, Dedy bisa menghemat Rp 800 per kg dan harga pakan jadi pabrik saat ini Rp 5.700 per kg. Ia menilai, penghematannya memang tidak seberapa karena Dedy menambahkan komponen premiks, enzim, probiotik dan anti jamur ke dalam pakan. Bahkan belakangan, ditambahkan pula ekstrak berbagai macam herbal.

Technical Consultant Animal Utilization US Soybean Export Council (USSEC), Budi Tangendjaja mengatakan, pakan adalah biaya utama dalam peternakan layer, sehingga peternak harus memperhatikan secara lebih detail akan pakan. “Model usaha peternakan layer terintegrasi yaitu peternak berpikir mulai dari bahan baku pakan, DOC (ayam umur sehari), vaksin dan obat yang masuk ke dalam kategori input. Kemudian menghasilkan produksi, yaitu  peternak mempunyai feedmill, farm serta tempat pengumpulan telur,” paparnya.

Rantai pasok berikutnya, imbuh Budi, peternak memasarkan telur, ayam apkir, kotoran ayam sebagai pupuk dan akhirnya mendapat keuntungan dari kegiatan tersebut. Keuntungan sangat ditentukan oleh efisiensi, performa ayam, kematian dan biaya pakan sehingga konsep berpikir di dalam peternakan yang terintegrasi adalah mulai dari input sampai menghasilkan barang yang siap dijual. 

Fasilitas Penunjang

Dedy mulai menggunakan pakan self mixing sejak awal beternak yaitu pada 1993 silam. Awalnya pencampuran pakan dilakukan secara manual. Baru 14 tahun kemudian, tepatnya pada 2007, pencampuran pakan dilakukan dengan menggunakan mesin vertical mixer berkapasitas 3 ton sekali pencampuran.

“Peralatan maupun hal-hal yang diperlukan untuk membuat pakan self mixing adalah mesin mixing. Saat ini mesin untuk mencampur pakan tersebut berupa horizontal mixer, sehingga pencampuran pakan menjadi lebih sempurna dan kapasitas lebih besar. Lalu mesin genset untuk memutarnya, timbangan pakan, serta tenaga kerja,” sebutnya.

Bagi peternak layer yang masih murni menggunakan pakan jadi pabrik dan ingin beralih ke pakan self mixing, Sukarman menyarankan untuk menggunakan mixer. “Sebetulnya kalau ingin pindah, alat yang dibutuhkan cukup sederhana yaitu mixer untuk mencampur. Tetapi jika tidak memiliki mixer, atau populasinya hanya 5.000 ekor ke bawah, maka bisa dicampur secara manual menggunakan sekop,” sarannya.

Ia pun menyampaikan jika tersedia penggilingan atau selep jagung, sehingga tidak perlu khawatir. Diketahui bahwa di Blitar banyak sekali pengusaha keliling selep jagung. Tidak perlu datang ke tempat penyelepan, tetapi pengusaha selep jagung yang datang ke kandang dengan tarif Rp 60 – 75 rupiah per kg jagung.

Melengkapi apa saja peralatan yang perlu disiapkan, peternak layer muda yang berdomisili di Tulungagung, Jawa Timur, Muhammad Ilham Toyib Wicaksono memberikan saran kepada peternak layer yang ingin beralih ke pakan self mixing. “Peternak ayam petelur yang ingin beralih ke pakan self mixing, peralatan yang digunakan diantaranya mixer, hammer mill, dan mikro mixer. Peralatan ini saya siapkan untuk populasi ayam sebanyak 75.000 ekor,” tandas pria yang kerap disapa Ilham ini.

Budi berpendapat, sudah saatnya peternak layer untuk membuat pabrik pakan atau pakan sendiri. “Jika kita ingin mengurangi biaya produksi, maka harus memanfaatkan teknologi yang ada. Teknologinya macam-macam, mulai dari strain bibit ayamnya, dari segi pakannya seperti formulasi, kontrol kualitas bahan baku, dan shadow price supaya semua teknologi yang disediakan bisa diterapkan dalam rangka mengurangi biaya produksi,” jelasnya.

Pemanfaatan teknologi inilah, sambung Budi, yang harus dikerjakan supaya dapat menghasilkan produk yang efisien. Sebab, produk ayam diciptakan untuk menghasilkan telur sangat efisien. Peternak diminta untuk menyiapkan penunjang teknologinya, supaya potensi genetik ayam bisa tercapai.

Meramu Pakan Layer

Penggunaan pakan self mixing dapat memudahkan peternak dalam memilih bahan pakan yang disesuaikan dengan kondisi layer. Ilham mengamini hal tersebut, sebab dengan pakan yang dibuat sendiri bisa disesuaikan dengan kandungan nutrisinya. Selain itu pula, peternak bisa memilah bahan baku sesuai dengan yang diinginkan. 

“Self mixing bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang banyak dengan kualitas pakan yang hampir sama atau bahkan lebih baik dari pakan pabrik. Secara finansial, persentase kebutuhan pakan layer sekitar 70 %. Namun tergantung pada harga telur, jika harganya normal bisa 70 %, tetapi jika harga telur jeblok ditambah lagi produksi drop, bisa sampai ‘torok’,” beber Ilham.

Guna meramu pakan, masih menurut Ilham, pertama dikondisikan jumlah kebutuhan dari ayam, baik dari segi nutrisi, energi, protein, lemak kasar dan lain sebagainya. Selanjutnya, formulasi pakan dibuat dengan Microsoft Excel, bahan yang dibutuhkan kandungannya apa saja. Kemudian, Ilham hanya perlu memainkan banyaknya persentase bahan pakan yang telah dipilih. 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 249/Juni 2020





1 komentar:

  1. Mari Bergabung Sekarang Juga !

    Linkaja88 Adalah Agen Judi Deposit Linkaja Terbesar Di Indonesia!

    Promo :
    ★ Bonus 10% Deposit Pertama !
    ★ Bonus Deposit Harian 5%
    ★ Bonus Cashback Mingguan s/d 10%
    ★ Bonus Referral 7% + 2%
    ★ Bonus 100% (bila anda 8x menang secara beruntun)
    ★ Bonus Rollingan Mingguan 0.5% + 0.7%

    Menyediakan Permainan :
    • Sabung Ayam Online
    • Sporstsbook / Judi Bola
    • Casino Live
    • Slot Online ( PRAGMATIC | RED TIGER | JDB| SPADE GAMING | JOKER | PLAY1628 | FAFASLOT )
    • PokerVita ( POKER | DOMINO | CEME | CAPSA | SAKONG | BANDAR Q )
    • Tangkasnet
    • Tembak Ikan Online
    Dan Masih Banyak Lainnya.

    Daftar & Klaim Bonusnya Sekarang Juga !
    Hubungi Kontak Resmi Kami Dibawah ini (Online 24 Jam Setiap Hari) :

    » Nomor WhatsApp : 0812–2222–995
    » ID Telegram : @bolavitacc
    » ID Wechat : Bolavita
    » ID Line : cs_bolavita

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.